Senin, 26 April 2010

Memindahkan kota di Eropa ke Sragen

Minggu malam sudah beranjak sepi dan hening saat mendekati pukul 10, jalanan sudah semakin sepi, beberapa orang tampak bergegas segera pulang ke rumahnya masing masing. Nampak beberapa orang bergerombol di depan warung makan atau gerobak penjual rokok yang menghidupkan radio transistornya dengan volume lumayan kencang. Di gang-gang di kampung-kampung yang banyak rumah kost, sudah mulai terdengar teriakan ;”uiiiiiiiiik” dari penjaja makanan dengan pikulan yang terdiri dari 2 buah keranjang tenong berisi berbagai makanan ringan tradisional seperti jadah, serabi, kacang rebus atau goreng, jagung rebus dan semacamnya, memenuhi kebutuhan para anak kost yang malam-malam pingin ngemil. Teriakan itu sebenarnya dari kata “terik”, julukan para penjaja makanan semacam ini.

Dari siaran radio yang memancar dari RRI Jogja terdengar alunan gending Jawa yang sendu, yang kemudian disusul suara berat dan berwibawa : ‘Nuwun para pamiyarsa, pinanggih malih kaliyan Keluarga Jogja ingkang dalu menika bade ngaturaken …………..yang kemudian ditutup dengan : …….tehnik lan montase Rahutomo tuwin Samodro, sutradara…. Sumardjono…’.

Itulah sepenggal pengantar pambuka siaran sandiwara radio berbahasa Jawa yang di tahun 70 an menjadi kebanggaan masyarakat Yogya, milik RRI Jogja. Saat itu radio pemerintah yang beroperasi pada jalur SW ini belum punya saingan radio-radio lain kecuali dengan sesama RRI di kota lain. Group sandiwara ini bernama “Keluarga Jogja”, dikomandani almarhum Sumardjono. Siaran mereka tiap hari Minggu malam jam 22.00 selalu ditunggu-tunggu oleh para pendengar setianya.

Naskah yang dimainkanpun tidak tanggung-tanggung, kebanyakan karya novelis kelas dunia seperti Leo Tolstoy, Charles Dickens dan lain-lain, yang umumnya dari daratan Eropa dan yang kemudian dengan begitu apik disadur kedalam bahasa Jawa dengan setting Jawa juga oleh Sumardjono. Pendengar begitu menyatu dengan suasana yang dibangun oleh Sumardjono sepertinya kita berada di suatu desa di Sragen atau Playen Gunungkidul dengan segala dialog bahasa Jawa, lengkap dengan kromo inggil, kromo madya dan ngoko-nya, padahal setting naskah aslinya berada di suatu lokasi di daratan Eropa sana.
Ratusan naskah lahir dari tangannya baik saduran maupun karya sendiri. Ciri yang membedakan, karya sendiri biasanya tamat dalam satu episode sedangkan yang saduran selalu berseri dengan beberapa epidose. Seandainya JK Rowling saat itu sudah menghasilkan Harry Potter saya yakin tidak akan dilewatkan oleh Sumardjono. Alangkah serunya, Harry Potter yang entah dinamai siapa berbahasa Jawa dan hidup mungkin di Kebumen atau Jepara sana.

Tulang punggung group ini disamping Soemardjono yang bertindak selaku sutradara, penulis dan penyadur naskah, adalah pemain top dengan kekhasan karakter masing-masing, yang masih saya ingat antara lain Moh Habib Bari, Hastin Atas Asih, Bagus Diarto, Maria Kadarsih. Tidak kalah penting peranannya adalah para teknisi yang menyiapkan rekaman dengan segala sound effect dan ilustrasi yang menjadikan siaran ini begitu hidup dan menghanyutkan para pendengarnya ke suasana cerita bersetting Jawa. Asyiknya siaran ini bebas dari iklan yang mengganggu konsentrasi pendengar karena memang saat ini RRI belum mengenal iklan.

Siaran ini nyaris tanpa pesaing, maklum waktu itu fasilitas hiburan lewat media elektronik yang ada masih sangat terbatas, belum ada radio FM, belum semua orang mampu memiliki pesawat televisi. Para pendengar radio kebanyakan masih berorientasi ke RRI Jakarta (untuk siaran berita), Radio Australia, VOA, BBC, Radio Hilversum Belanda (untuk mendengarkan lagu-lagu barat baru lewat siaran tangga lagu-lagu mereka).

Persaingan justru datang dari intern RRI Jogja sendiri yaitu siaran Dagelan Mataram, Ketoprak Mataram dengan tokoh idolanya Tjokrodjijo dan Kadariah, dan Pangkur Jenggleng-nya Basiyo.Tetapi persaingan itu tidak cukup signifikan karena disiarkan pada hari yang berbeda dan mempunyai segmentasi pendengar yang berbeda pula. Yang membedakan, para pendengar ketiga acara yang disebut terakhir ini begitu siaran berakhir mereka sudah merasa puas dengan rasa terhibur, sementara para pendengar setia Keluarga Jogja tidak sekedar puas, tetapi masih akan meneruskan dengan pembicaraan hangat antar pendengar pada keesokan harinya, apakah itu di kantor-kantor, pasar dan setiap kerumunan orang. Apalagi kalau cerita yang disajikan adalah karya novelis dunia yang berhasil diboyong oleh Soemardjono kealam Jawa. Luar biasa !

Bagaimana dengan kondisi mereka pada live event ? Saya pernah berhasil mengundang mereka untuk pentas secara live di panggung, namun sayang sekali hasilnya tidak sehebat saat di udara. Ada faktor-faktor non teknis yang menghambat keberhasilan pentas pangung secara live, pertama postur tubuh para pemeran tidak sesuai dengan karakter suara mereka, seperti misalnya seorang pemeran yang dalam versi udaranya mengesankan sosok seorang yang tinggi besar dengan suara berat berwibawa, ternyata sosok sebenarnya walaupun vokalnya tetap berat dan berwibawa tetapi postur tubuhnya sama sekali tidak seperti itu, dan yang kedua faktor teknis dimana gedung tempat pertunjukan tidak memiliki perangkat sound system yang memadai, maklum saat itu belum ada persewaan perangkat sound system dengan output ribuan watt seperti sekarang. Walau demikian ketidak berhasilan live event ini tidak mengeurangi keberhasilan mereka pada pentas udara.

Group ini mulai surut kepopulerannya saat tokoh-tokohnya pindah tugas ke instansi lain, seperti ke RRI/TVRI Pusat, TVRI Yogya. Maria Kadarsih sebagai penerus Sumardjono mencoba menghidupkan dan membangkitkan kembali group ini, tetapi nampaknya tidak begitu berhasil, apalagi dengan datangnya radio-radio swasta di jalur AM dan FM, dengan jenis serial sandiwara bernuansa silat seperti Saur Sepuh karya Nicky Kosasih dan lain-lain.

Bagaimanapun kenangan itu masih ada pada saya, dengan naskah cerita yang saya anggap favorit adalah Bekisar, sebuah naskah yang disadur dari novelis terkenal Rusia (sayang saya lupa nama dan judul novelnya), sedangkan naskah yang pertama kali saya ikuti adalah Endang Juwiri, sebuah cerita mistis yang disiarkan bertepatan dengan malam 1 Suro.

Tokoh Keluarga Jogja yang masih bisa saya jumpai di Facebook adalah Moch Habib Bari, yang sayangnya mungkin karena kesibukannya tidak merespons message yang saya kirim. Sebenarnya saya ingin menggali lebih dalam tentang Keluarga Jogja dari pelaku aslinya. Selamat mas Habib Bari !

Gambar hasil penelusuran Google.

Kamis, 15 April 2010

Wedang uwuh, “sampah” yang menyehatkan

Setelah seharian berkeliling Yogya bersama anak dan cucu-cucu, kami bermaksud mencari makan siang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore. Dalam keadaan kelaparan, entah bagaimana ceritanya tahu-tahu kami sudah berada di daerah Wirosaban, dan di pertigaan jalan dari RSUD Wirosaban ke arah timur sebelum belok kanan kearah terminal Giwangan, kami menemukan warung soto Pak Bancak namanya. Tempatnya cukup representatif dan nyaman, dan setelah rame-rame pesan soto daging sapi, rupanya saya baru menyadari bahwa ada yang luput dari perhatian saya, saat cucu saya bertanya apa itu Wedang Uwuh. Memang setelah saya amati, di daftar menu minuman tertulis nama aneh itu. Dalam bahasa Jawa, “uwuh” berarti sampah, karena itu tanah yang digali untuk menampung sampah disebut “pawuhan”. Agak sulit saya menjelaskan kepada cucu saya kenapa “sampah” bisa dijadikan minuman.
Akhirnya saya ikutan cucu saya memesan wedang uwuh, sekedar penawar rasa penasaran seperti apa itu “wedang sampah”.


Saat disajikan, tenyata wujudnya adalah minuman berwarna coklat kemerah-merahan seperti seduhan kayu secang, dan baunya harum aroma kayu manis serta disajikan dalam keadaan hangat. Saat saya cicipi terasa hangat jahe dan rerempahan lainnya.
Sebelum menemukan wedang ini, saya sudah sering minum wedang secang yang dibuat dari serutan kayu secang, tetapi rasa nikmat yang muncul ketika minum wedang uwuh, lebih dari kenikmatan saat minum wedang secang, yaitu rasa pedas berbau wangi, dan berbagai rasa yang ditimbulkan oleh bahan-bahan yang dicampurkan. Setelah minum, badan menjadi hangat dan lebih segar.
Beruntung, ternyata warung ini juga menjual wedang uwuh dalam kemasan siap seduh, dan setelah menikmatinya, kami memutuskan untuk juga membeli dan membawa pulang untuk diminum di rumah dan oleh-oleh buat tetangga.


Dari keterangan dalam kemasan ramuan minuman ini aslinya adalah minuman khas Imogiri karena wedang uwuh muncul pertama kali, dari dan merupakan minuman khas Imogiri. Bahan bakunya rempah-rempah yang banyak digunakan dalam meramu jamu Jawa, yaitu daun, ranting dan kembang cengkeh , daun pala, daun manis jangan, serutan kayu secang, jahe, ditambah gula batu. Dilihat secara sepintas memang ramuan ini kelihatan seperti uwuh atau sampah daun-daunan. Cara menyajikannya dengan cara diseduh dengan air mendidih, kemudian diminum dalam keadaan hangat. Saat ramuan ini diseduh, ramuan wedang uwuh menghadirkan warna air coklat kemerahan. Sebungkus ramuan ini bisa diseduh hingga 2 kali, maksudnya kalau Anda masih merasa kurang hanya dengan satu gelas, anda bisa menyeduhnya sekali lagi, asal cara mengaduknya pelan-pelan agar gula batu tidak mencair seluruhnya yang akibatnya seduhan kedua tidak manis lagi.

Saat itu, cuaca cukup panas tetapi tetap saja terasa nikmat saat minum wedang uwuh, walaupun kata orang waktu paling tepat menikmati minuman ini ketika cuaca dingin, misalnya malam hari, pagi hari atau saat hari hujan.Wedang uwuh memang bukan jamu tetapi sekedar minuman, namun demikian minuman ini berkhasiat untuk menghilangkan batuk, capek, masuk angin, pegal linu, dan mengobati perut kembung.

Bagi mereka yang pernah berkunjung ke makam Raja-raja di Imogiri, akan menjumpai banyak warung yang menjual wedang uwuh di sekitar lokasi makam. Penjual wedang uwuh melengkapinya dengan menu sajian makan yaitu nasi pecel yang sayurannya berupa kembang turi, sehingga disebutnya pecel kembang turi. Untuk mereka yang tidak sempat berkunjung ke Imogiri, sekarang wedang uwuh dalam bentuk kemasan sekali seduh tersedia dan banyak dijual di toko oleh-oleh di Yogya, dengan harga pada kisaran Rp.2000 per bungkus. Atau Anda mungkin mau repot untuk coba-coba membuat sendiri. Bahan-bahannya tidak sulit untuk dicari. Hampir di setiap pasar tradisional ada kios yang khusus menjual bahan-bahan pembuat jamu dan biasanya mereka menjual bahan-bahan ini, bahkan beberapa jenis bahan, seperti kayu manis, jahe, kayu secang, gula batu, dan cengkih tersedia di super market. Lalu seberapa perbandingannya, Anda bisa coba-coba sendiri dengan melihat foto yang disertakan dalam tulisan ini. Dengan mencoba-coba membuat sendiri, mungkin Anda bisa menemukan resep yang pas rasanya sesuai selera dengan menambah, atau mengurangi perbandingan bahan-bahannya, misalnya bila terlalu pedas kurangi jahenya dan seterusnya. Siapa tahu Anda malah berhasil memproduksi atau mengemas wedang uwuh di kota Anda dengan merk Anda sendiri. Hanya pesan saya, kalau Anda berhasil tetap jangan lupa untuk mencantumkan dalam label bahwa minuman ini adalah “minuman khas Imogiri”. Tidak ada resep yang pasti dalam membuat wedang uwuh karena wedang ini memang bukan obat, tetapi menyehatkan.
Akhirnya setelah puas makan soto-sapinya Pak Bancak, dan merasakan nikmatnya "wedang sampah” kami merasa lega karena hari itu kami mendapatkan wisata kuliner baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, bahwa ada ‘sampah’ yang menyegarkan dan menyehatkan. Sayangnya, diluar Yogya masih sulit memperoleh wedang uwuh, dan karenanya kalau lagi kangen minum wedang ini saya nitip ke teman yang sering ke Yogya. Mungkin perlu dipikirkan strategi pemasaran dan promosi untuk memperkenalkan dan memperluas pemasaran wedang ini keluar Yogya sebagai salah satu kuliner unggulan baru Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah selama ini orang hanya mengenal gudeg, geplak, bakpia dan yangko.

Senin, 12 April 2010

Nonton bioskop djaman doeloe

Saat itu di Yogya bisa dijumpai beberapa gedung bioskop. Rahayu di jalan Solo, Rex/Ratih di P. Mangkubumi, Indra di Malioboro, Senisono dekat Gedung Agung, Soboharsono di alun-alun utara, Luxor/Permata di Pakualaman dan Pathuk di ujung jalan Pathuk. Bioskop-bioskop ini terbagi dalam tiga katagori, yang termasuk kelas atas interior dan tempat duduknya lebih bagus, dengan nomer kursi, proyektornya dua buah sehingga tidak ada istirahat saat operator mengganti rol film. Layarnyapun sudah disesuaikan dengan perkembangan ukuran skala gambar yang dikenal dengan istilah cinemascope atau lebih dikenal dengan layar lebar dan lengkung, sound systemnya juga lumayan bagus untuk ukuran masa itu, meskipun belum dilengkapi dengan Dolby stereo. Tempat duduk dibagi lagi menjadi kelas-kelas, ada yang namanya Loge atau Balkon, kelas I, II, III. Kelas Loge atau Balkon biasanya lantainya sejajar dengan proyektor, penontonnya lebih sophisticated, tidak suka ribut meskipun mereka yang duduk di kelas depan (III) sekalipun.
Yang termasuk kelas kambing minta ampun, di barisan kursi depan biasanya tercium bau pesing karena ulah penonton yang suka buang air kecil di bawah layar, dan penontonnya ribut bukan main kalau film putus atau ada adegan yang “serem” (misalnya kissing atau jagoannya menang berkelahi). Tidak cukup dengan tepuk tangan, tetapi disertai dengan teriakan-teriakan dan menepuk-nepuk kursi dengan sandal.

Termasuk katagori kelas atas Rahayu dan Ratih, menengah Indra, Soboharsono, Senisono dan Permata, kelas kambing bioskop Pathuk. Jam pertunjukan berbeda dengan kota lain, bahkan dibanding Jakarta atau Surabaya sekalipun. Umumnya jam pertunjukan pukul 17.00, 19.00 dan 21.00 tetapi di Yogya berbeda, ada pertunjukan pukul 10.00 pagi setiap hari atau yang disebut pertunjukan matinee. Di kota lain umumnya matinee hanya ada pada hari Minggu atau hari libur. Alasannya, Yogya adalah Kota Pelajar, dimana jam belajar mengajar sekolah-sekolah mulai pagi hingga malam hari. Inilah yang mendasari kebijaksanaan Pemda mengijinkan pertunjukan matinee setiap hari, dengan maksud pelajar dan mahasiswa masuk sore atau malam punya kesempatan nonton pagi, walaupun pada prakteknya banyak juga pelajar nakal yang suka bolos untuk nonton matinee. Harus dimaklumi bahwa pada saat itu fasilitas hiburan utama bagi masyarakat yang ada hanya bioskop, belum ada televisi atau media hiburan elektronik lainnya seperti sekarang ini.


Film-film yang diputar umumnya ex Hollywood, produksi MGM (Metro Goldwyn Meyer), Columbia Pictures, atau Twentieth Century Fox, yang kebanyakan dari genre western (baca cowboy) seperti The Good The Bad and The Ugly, Gun Fight at OK Coral, The Last Sunset, Shane, Last Train from Gunhill, dan drama musical seperti Rock Around the Clock, Jailhouse Rock, King Creole, Love Me Tender, April Love, Blue Suede Shoes, Roman Holiday. Bintang-bintang yang sering tayang dilayar bioskop-bioskop kelas atas antara lain Burt Lancaster, John Wayne, Ronald Reagan, Gary Cooper, Allan Ladd, Anthony Quin, Kirk Douglas, Gregory Peck, Elizabeth Taylor, Susan Hayward, Rita Hayworth, Audrey Hepburn, Charlston Heston, Lee Van Cleef, dan tidak lupa si “buruk muka” Jack Palance dan Ernst Borgnine yang selalu berperan sebagai tokoh antagonis.
Penyanyi yang juga main film adalah Elvis Presley, Pat Boone, Connie Francis, Doris Day.


Film-film first run dari kedua jenis tersebut biasanya diputar simultan di Rahayu dan Ratih, atau di Indra. Bioskop-bioskop yang lain umumnya memutar film-film second run atau film Indonesia, yang saat itu biasa disebut film Jawa, dengan bintangnya yang terkenal Titien Soemarni, AN Alcaff, serta film Asia lainnya.

Diantara film-film musikal yang pernah diputar, maka film Rock Around The Clock merupakan film favorit saya dan sempat menontonnya hingga 3 kali, 2 kali saat first run dan sekali pada second run. Film musikal ini menampilkan group band rock Bill Haley and His Comets, dan sebuah group pop bernama The Platters. Hingga saat ini lagu-lagu hits ini masih melegenda dan masih sering saya putar di cd player saya, lagu itu adalah Only You, Smoke Gets in Your Eyes dan The Great Pretender. Film inilah merupakan awal kebangkitan musik rock and roll sebelum munculnya Elvis Presley.

Untuk menonton di Rahayu, Ratih atau Indra perlu perjuangan tersendiri, mengapa demikian ? Seperti disebut dimuka, fasilitas hiburan bagi masyarakat yang utama adalah bioskop. Untuk menonton film-film baru pada pemutaran perdana hingga hari ketiga, kita harus datang lebih awal sebelum loket dibuka untuk mendapat posisi antrian dekat loket, kalau tidak, kita bisa batal nonton karena kehabisan karcis atau harus berhadapan dengan calo yang harganya bisa dua kali lipat, tergantung filmnya, atau, kita harus tetap ngantri dua jam lagi untuk jam pertunjukan berikutnya dengan mempertahankan posisi kita di antrian. Di bioskop Indra saat diputar film musical Rock Around the clock, antrian karcisnya berujung hingga ke Malioboro. Demikian juga di Ratih dan Rahayu saat diputar film musical dengan bintangnya Elvis Presley antrian berujung di jalan P. Mangkubumi dan jalan Solo. Menonton selain hari-hari itu memang lebih longgar, tetapi itu berarti kita sudah ketinggalan informasi, dan kita hanya akan jadi pendengar kala teman-teman kita di sekolah, dikantor atau tetangga sebelah, berdiskusi tentang film yang sedang diputar, sementara waktu nonton sudah tidak surprise lagi karena jalan ceritanya sudah kita dengar dari tetangga atau teman.


Bicara tentang calo karcis, bioskop Indra punya petugas keamanan (katakanlah sekarang Satpam) namanya Pak Min. Dia memang seorang pendekar (pendek dan kekar) dengan wajah bulat mirip Ernst Borgnine. Dia inilah yang paling berani dan tegas menertibkan para calo yang biasanya menerombol antrian sehingga terjadi kericuhan di depan loket. Kalau dia sudah marah, dia lolos ikat pinggangnya dan diputar-putar diatas kepalanya bak seorang pendekar, dan dengan tidak pandang bulu calo yang tidak mau tertib pasti kena sabetan ikat pinggangnya. Dia bak seorang dewa penyelamat bagi para calon penonton yang sudah sejak awal mau mengantri dengan tertib. Terima kasih pak Min, ketegasanmu selalu kukenang.

Sebenarnya bagi para calon penonton, calo karcis bukan sosok yang harus selalu dimusuhi, yang membuat para calon penonton jengkel dan kesal adalah ulahnya yang suka menyerobot antrian langsung ke depan loket.
Di sisi lain, jasa calo kadang-kadang juga sangat dibutuhkan. Bayangkan, malam Minggu, Anda seorang pria yang sedang pendekatan dengan seseorang calon pacar, lagi kencan dengan acara menonton bioskop. Tentu Anda sudah berpakaian rapi dan selalu ingin kelihatan rapi dihadapan calon pacar, apakah kira-kira Anda mau jadi lecek gara-gara berdesak-desakan ngantri karcis. Tentu Anda sangat butuh jasa calo untuk mendapatkan karcis dan berapapun harganya pasti Anda bayar agar tetap kelihatan generous di hadapan calon pacar. Betul kan ? Menurut saya betul,….. pengalaman !

Poster hasil penelusuran di Google.

Rabu, 07 April 2010

Bule kecil “kurang ajar”

Di Malioboro, ketika melintasi serombongan (satu keluarga) turis manca negara sedang berbincang di depan hotel Mutiara, cucu saya terheran-heran memperhatikan seorang bule kecil memanggil ayahnya dengan hanya menyebut namanya saja, John, Edward, Bill atau yang lain-lain. Betul-betul “kurang ajar” anak bule ini katanya, masak kepada ayahnya sendiri “njangkar”.
Dalam bahasa Indonesia, “njangkar” berarti memanggil dengan cara tidak sopan kepada orang yang lebih tua. Dia (cucu saya), tidak tahu bahwa si bule kecil ini memang tidak punya budaya atau tradisi memanggil ayahnya atau orang-orang yang lebih tua dengan pak, pakde, paklik, mas, bu, mbak, bulik (dalam bahasa mereka), seperti yang selama ini dia lakukan sesuai apa yang diajarkan orang tuanya.

“Desa mawa cara, negara mawa tata” (cara melafalkannya yang tepat, baca huruf “a” dalam kalimat ini dengan “o” seperti kita melafalkan kata “Sosro” , bukan seperti kata “Solo”, karena memang itulah aturan menulis dalam bahasa Jawa, rumit kan ?). Itulah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya kira-kira semua daerah atau negara mempunyai adat, budaya, tradisi yang berlaku secara lokal di lingkungan masyarakatnya masing-masing. Ini tidak berkaitan dengan masalah politik atau konstitusi tetapi murni tata kehidupan masyarakat.

Sebagai orang Jawa, saya, anak saya, bahkan sampai cucu saya sekarang ini masih sangat kental mengenal dan menjalankan tradisi sebutan pak, bu, eyang, mbah, bulik, paklik, bude, pakde, mas, mbak kepada orang yang lebih tua umurnya, atau yang secara tradisi menjadi dituakan.

Khusus dengan tradisi yang dituakan itulah yang akan menjadi pokok bahasan tulisan saya ini, suatu hal yang mungkin belum semua orang tahu.

Disini saya sertakan dua buah foto.Saya punya cucu, bahkan cucu saya ini yang termuda dari seluruh delapan orang cucu saya, namanya Najwa (lihat fotonya yang lucu), dan satu lagi foto dua orang anak,namanya Epal dan Vira, cucu adik saya. Dalam usia yang baru tujuh bulan, ketika tulisan ini saya buat, Najwa cucu saya sudah menyandang sebutan mbak dari Epal dan Vira, dan tentu saja dari cucu adik-adik saya yang lain berapapun usianya, Memang secara tradisi mereka harus memanggil mbak Najwa kepada cucu saya ini.

Agak sulit untuk menjelaskan, bagaimana mungkin seorang yang sudah sekolah di SD atau bahkan SMU harus memanggil seorang balita yang umurnya jauh lebih muda darinya dengan panggilan mas atau mbak. Agak bertentangan dengan aturan bahwa seseorang memanggil mbak atau mas kepada yang lebih tua umurnya. Tetapi itulah tradisi kekerabatan yang masih dijunjung tinggi di keluarga Jawa.
Kebetulan saya terlahir sebagai anak “mbarep” (sulung) . Keberuntungan bagi anak-anak dan cucu-cucu saya yang selalu mendapat posisi “atas” di jaringan keturunan keluarga saya. Mereka selalu “menang” posisi terhadap anak dan cucu adik-adik saya dan mendapat keistimewaan selalu mendapat pangilan dengan “mas” atau “mbak”.
Sebaliknya, kasihan juga, seorang anak yang lahir sebagai “ragil” (bungsu), tidak akan pernah mendapat panggilan mas atau mbak dari anak-anak pakde kandungnya walaupun usianya jauh lebih tua sekalipun. Dan kewajiban ini berlaku seumur hidup sampai dewasa dan tua .Rumit kan ?

Tidak mudah untuk menjelaskan kepada mereka, tapi itulah tradisi turun temurun yang sudah melekat di keluarga Jawa. Protes memang kadang-kadang ada namun pada umumnya mereka akhirnya bisa juga menerima kenyataan ini. Mengapa mereka akhirnya menerima, karena di keluarga Jawa mereka yang tidak melaksanakan aturan ini akan mendapat cap “ora ngerti unggah ungguh” atau kalau diterjemahkan “tidak mengerti sopan santun”. Mungkin karena takut mendapat cap semacam ini, maka, mau tidak mau, senang tidak senang, mereka harus melaksanakannnya.
Bagaimanapun saya masih berbesar hati bahwa dilingkungan keluarga besar saya, tidak memandang apakah mereka tinggal di pedesaan atau di kota-kota besar seperti Jakarta sekalipun, masih setia menganut tradisi semacam ini. Ini berarti bahwa mereka masih menyadari ke-Jawa-annya, dan tidak pernah terkontaminasi oleh budaya “bule kecil kurang ajar’ seperti judul tulisan ini.

Senin, 05 April 2010

Kol Kampus

Bangsa kita punya kebiasaan unik, memberi nama suatu benda berdasar merk yang dikenal pertama kali. Ambil contoh : ppo itu bisa berarti minyak angin, orang bisa minta ppo (maksudnya minyak angin) cap Kampak atau Caplang, padahal PPO (Pak Pung Oil) adalah merk minyak angin yang pertama kali dan cukup terkenal. Ada lagi kodak, selalu diidentikkan dengan kamera, jadi kita bisa punya kodak (maksudnya kamera) merk Nikon, Fujica, Asahi Pentax, Cannon, sementara Kodak adalah merk kamera pertama yang terkenal. Masih banyak contoh yang lain, seperti honda selalu mewakili kendaraan bermotor roda dua buatan Jepang. Jadi ada orang Yogya ke Klaten naik honda merk Yamaha.


Demikian juga yang menjadi judul tulisan ini, kol. Aslinya jenis kendaraan ini adalah varian mobil komersial keluaran industri otomotif Mitsubishi yang memberi nama produknya Mitsubishi Colt, type T-120, satu kendaraan berbentuk pick up yang aslinya dengan bak terbuka karena memang dimaksudkan untuk angkutan barang. Pick up ini kemudian dikembangkan oleh masyarakat menjadi kendaraan angkutan penumpang dengan memberi kap terpal atau dekleed dilengkapi tempat duduk memanjang kebelakang di dua sisi samping bak belakang, atau yang sekalian diubah bentuk karoserinya menjadi station wagon. Jenis kendaraan penumpang dengan bentuk seperti inilah yang kemudian sangat dikenal oleh masyarakat dengan nama Kol (aslinya : Colt). Jadi apapun merk mobilnya, maka semua bentuk kendaraan penumpang seperti ini selalu disebut kol, merknya boleh Isuzu, Daihatsu, Kijang dan lain-lain. Yang lebih parah lagi, DLLAJR-pun ikut-ikutan latah, dibeberapa kawasan di berbagai kota ada rambu lalulintas berbunyi : “Kol dilarang masuk” , jadi kalau mengacu pada arti sebenarnya, harusnya mobil Kijang, Isuzu, Daihatsu boleh dong masuk Padahal maksud sesungguhnya yang dilarang adalah semua kendaraan penumpang sejenis station wagon atau pickup yang menjadi angkutan penumpang.

Di Yogya, kol mempunyai sejarah tersendiri karena pernah mempunyai nama harum di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa UGM. Saat itu di akhir 70-an atau awal 80an, moda angkutan umum bermotor dalam kota belum ada kecuali becak dan andong, sementara kendaraan pribadi roda dua atau empat masih relatif terbatas, khususnya di kalangan mahasiswa. Kendaraan di kalangan pelajar dan mahasiswa masih didominasi sepeda onthel.

Seiring dengan muncul dan demikian ngetrennya kendaraan komersial Mitsubishi colt, beberapa orang berinisiatif mengoperasikan kendaraan miliknya yang telah dimodifikasi menjadi pickup dengan bak belakang tertutup terpal dengan tempat duduk berbentuk bangku panjang. Bidikan pertama adalah ke jurusan kampus, yang tidak lain adalah kampus Universitas Gadjah Mada di Bulaksumur. Angkutan ini dalam waktu singkat menjadi andalan dan idola para mahasiswa UGM karena mereka menelusuri jalan-jalan di lingkungan kampus sampai ke fakultas-fakultas. Dan sinilah yang kemudian moda angkutan umum ini populer dijuluki kol kampus, dengan teriakan kernetnya .. kampus ……kampus…. kampus.
Moda angkutan umum ini akhirnya tidak hanya menjadi andalam mahasiswa UGM, tetapi juga menjadi andalan masyarakat umum yang lain karena mereka merasa terbantu untuk mencapai tujuan di jalur-jalur yang dilalui kol kampus ini.

Sayang tidak terekam dalam ingatan saya berapa tarif pertama yang dikenakan pada penumpang saat itu, tetapi yang jelas sejak saat itu jugalah masyarakat mulai mengenal tarif jauh-dekat sama saja. Karena masyarakat belum terbiasa, tidak jarang terjadi adu urat leher antara penumpang dan kernet yang menarik ongkos, penumpang merasa tempat tujuan tidak terlalu jauh, tetapi harus bayar sama dengan yang naik dari ujung pangkal pemberangkatan sampai kampus UGM.
Yang masih saya ingat adalah route awal-awal adanya kol kamus, dari arah selatan Pingit-Jalan Magelang-Borobudur Plaza kanan-Cemorojajar-Jetis-masuk lewat Gedung BPA kanan-Bundaran-menelusuri kampus-keluar lewat bundaran lagi-Cik Di Tiro-Kridosono-Jembatan Kewek-Malioboro.
Bila saya dari Magelang ingin ke Malioboro, selalu dari bis umum turun Borobudur Plaza, kemudian ikut putar-putar kampus, langsung Malioboro. Tarifnya saya lupa, yang jelas lebih murah dibanding naik becak dari Pingit.
Walaupun moda angkutan ini dari jenis angkutan komersiil berbayar mereka tetap menggunakan plat hitam.

Sudah bisa diduga, melihat prospeknya yang begitu cerah, maka jumlah angkutan ini dalam waktu singkat menjamur dan berkembang demikian pesat jumlahnya, bahkan trayeknyapun sudah bukan terbatas ke kampus UGM melainkan ke segala arah. Tetapi anehnya masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan namanya, tetap saja mereka menyebutnya kol kampus meskipun trayeknya sama sekali tidak bersinggungan dengan kampus UGM. Karena itu jangan heran kalau ada kol kampus jurusan Kalasan (memangnya disana ada kampus apaan waktu itu?)

Pemerintah yang melihat moda angkutan ini semakin semrawut trayek-trayeknya, akhirnya mengadakan penertiban, pertama perubahan angkutan plat hitam diharuskan menjadi plat kuning yang diatur trayek-trayeknya, dengan kewajiban kir kendaraan dan aturan-aturan lain yang berkaitan, pajak-pajaknya, serta manajemen kepemilikan operatornya.
Mulailah dibentuk koperasi-koperasi angkutan dalam kota dengan merekrut para pemilik kol kampus ini sebagai anggota dan merubah bentuk kendaraan pickup menjadi bus mini, terlahir diantaranya Aspada, Kopata, Kobutri dan lain-lain seperti bentuknya sekarang ini.
Dengan demikian, diakui atau tidak, kol kampus inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya moda angkutan kota seperti yang kita kenal sekarang ini, dan terakhir adanya moda angkutan terbaru Trans Jogya.


Tanpa bermaksud promosi, sebenarnya Mitsubishi dengan Colt-nya telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan industri angkutan penumpang dan barang, serta industri manufaktur sebagai industri hilir.
Di bidang menufaktur, berkembang pesat adanya industri karoseri, contohnya Adiputra di Malang, dan New Armada di Magelang yang dalam perkembangannya menjadi demikian menggurita, mereka mengawali industri karoserinya dengan Mitsubishi Colt ini, baru kemudian disusul dengan produk industri otomotif lainnya seperti Daihatsu, Kijang, Isuzu dan lain-lain..

Langkah perkembangan seperti itulah yang akhirnya mengilhami hal serupa di kota-kota lain di Indonesia.

Kampus…..kampus……kampus…….