Kamis, 15 April 2010

Wedang uwuh, “sampah” yang menyehatkan

Setelah seharian berkeliling Yogya bersama anak dan cucu-cucu, kami bermaksud mencari makan siang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore. Dalam keadaan kelaparan, entah bagaimana ceritanya tahu-tahu kami sudah berada di daerah Wirosaban, dan di pertigaan jalan dari RSUD Wirosaban ke arah timur sebelum belok kanan kearah terminal Giwangan, kami menemukan warung soto Pak Bancak namanya. Tempatnya cukup representatif dan nyaman, dan setelah rame-rame pesan soto daging sapi, rupanya saya baru menyadari bahwa ada yang luput dari perhatian saya, saat cucu saya bertanya apa itu Wedang Uwuh. Memang setelah saya amati, di daftar menu minuman tertulis nama aneh itu. Dalam bahasa Jawa, “uwuh” berarti sampah, karena itu tanah yang digali untuk menampung sampah disebut “pawuhan”. Agak sulit saya menjelaskan kepada cucu saya kenapa “sampah” bisa dijadikan minuman.
Akhirnya saya ikutan cucu saya memesan wedang uwuh, sekedar penawar rasa penasaran seperti apa itu “wedang sampah”.


Saat disajikan, tenyata wujudnya adalah minuman berwarna coklat kemerah-merahan seperti seduhan kayu secang, dan baunya harum aroma kayu manis serta disajikan dalam keadaan hangat. Saat saya cicipi terasa hangat jahe dan rerempahan lainnya.
Sebelum menemukan wedang ini, saya sudah sering minum wedang secang yang dibuat dari serutan kayu secang, tetapi rasa nikmat yang muncul ketika minum wedang uwuh, lebih dari kenikmatan saat minum wedang secang, yaitu rasa pedas berbau wangi, dan berbagai rasa yang ditimbulkan oleh bahan-bahan yang dicampurkan. Setelah minum, badan menjadi hangat dan lebih segar.
Beruntung, ternyata warung ini juga menjual wedang uwuh dalam kemasan siap seduh, dan setelah menikmatinya, kami memutuskan untuk juga membeli dan membawa pulang untuk diminum di rumah dan oleh-oleh buat tetangga.


Dari keterangan dalam kemasan ramuan minuman ini aslinya adalah minuman khas Imogiri karena wedang uwuh muncul pertama kali, dari dan merupakan minuman khas Imogiri. Bahan bakunya rempah-rempah yang banyak digunakan dalam meramu jamu Jawa, yaitu daun, ranting dan kembang cengkeh , daun pala, daun manis jangan, serutan kayu secang, jahe, ditambah gula batu. Dilihat secara sepintas memang ramuan ini kelihatan seperti uwuh atau sampah daun-daunan. Cara menyajikannya dengan cara diseduh dengan air mendidih, kemudian diminum dalam keadaan hangat. Saat ramuan ini diseduh, ramuan wedang uwuh menghadirkan warna air coklat kemerahan. Sebungkus ramuan ini bisa diseduh hingga 2 kali, maksudnya kalau Anda masih merasa kurang hanya dengan satu gelas, anda bisa menyeduhnya sekali lagi, asal cara mengaduknya pelan-pelan agar gula batu tidak mencair seluruhnya yang akibatnya seduhan kedua tidak manis lagi.

Saat itu, cuaca cukup panas tetapi tetap saja terasa nikmat saat minum wedang uwuh, walaupun kata orang waktu paling tepat menikmati minuman ini ketika cuaca dingin, misalnya malam hari, pagi hari atau saat hari hujan.Wedang uwuh memang bukan jamu tetapi sekedar minuman, namun demikian minuman ini berkhasiat untuk menghilangkan batuk, capek, masuk angin, pegal linu, dan mengobati perut kembung.

Bagi mereka yang pernah berkunjung ke makam Raja-raja di Imogiri, akan menjumpai banyak warung yang menjual wedang uwuh di sekitar lokasi makam. Penjual wedang uwuh melengkapinya dengan menu sajian makan yaitu nasi pecel yang sayurannya berupa kembang turi, sehingga disebutnya pecel kembang turi. Untuk mereka yang tidak sempat berkunjung ke Imogiri, sekarang wedang uwuh dalam bentuk kemasan sekali seduh tersedia dan banyak dijual di toko oleh-oleh di Yogya, dengan harga pada kisaran Rp.2000 per bungkus. Atau Anda mungkin mau repot untuk coba-coba membuat sendiri. Bahan-bahannya tidak sulit untuk dicari. Hampir di setiap pasar tradisional ada kios yang khusus menjual bahan-bahan pembuat jamu dan biasanya mereka menjual bahan-bahan ini, bahkan beberapa jenis bahan, seperti kayu manis, jahe, kayu secang, gula batu, dan cengkih tersedia di super market. Lalu seberapa perbandingannya, Anda bisa coba-coba sendiri dengan melihat foto yang disertakan dalam tulisan ini. Dengan mencoba-coba membuat sendiri, mungkin Anda bisa menemukan resep yang pas rasanya sesuai selera dengan menambah, atau mengurangi perbandingan bahan-bahannya, misalnya bila terlalu pedas kurangi jahenya dan seterusnya. Siapa tahu Anda malah berhasil memproduksi atau mengemas wedang uwuh di kota Anda dengan merk Anda sendiri. Hanya pesan saya, kalau Anda berhasil tetap jangan lupa untuk mencantumkan dalam label bahwa minuman ini adalah “minuman khas Imogiri”. Tidak ada resep yang pasti dalam membuat wedang uwuh karena wedang ini memang bukan obat, tetapi menyehatkan.
Akhirnya setelah puas makan soto-sapinya Pak Bancak, dan merasakan nikmatnya "wedang sampah” kami merasa lega karena hari itu kami mendapatkan wisata kuliner baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, bahwa ada ‘sampah’ yang menyegarkan dan menyehatkan. Sayangnya, diluar Yogya masih sulit memperoleh wedang uwuh, dan karenanya kalau lagi kangen minum wedang ini saya nitip ke teman yang sering ke Yogya. Mungkin perlu dipikirkan strategi pemasaran dan promosi untuk memperkenalkan dan memperluas pemasaran wedang ini keluar Yogya sebagai salah satu kuliner unggulan baru Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah selama ini orang hanya mengenal gudeg, geplak, bakpia dan yangko.

1 komentar:

  1. The best of the titanium tube - Aojititanium.blogspot.com
    The best of the titanium tube. Aojititanium. We do titanium tube not sell our knives, 대구광역 출장마사지 or sell 이천 출장마사지 anything like our knives. We sell them for sale 수원 출장샵 online for 하남 출장샵 the

    BalasHapus